Terima kasih Dewa 19

Musik terbaik yang dirasakan setiap orang sudah pasti berbeda. Lagu yang membawa perasaan kemana-mana, nada yang selalu terngiang di kepala serta lirik yang lekat di pikiran, lazim hadir di saat-saat masa muda yang kemudian terkenang hingga lanjut usia.

Dewa 19 punya 2 basis massa yang berbeda. Atau boleh dibilang 3 lah. Pertama adalah mereka yang akrab dengan Dewa 19 lewat vokal halus melengking khas Ari Lasso. Ini generasi pertama. Generasi tua. Yang kedua, mereka yang kesengsem sama vokal tinggi, kuat nan unik Once Mekel. Mereka lebih modern, anak muda era 2000 an. Yang ketiga? Ya mereka yang menyukai keduanya. Asal Dewa 19 pokoknya ok aja. Ini mirip-mirip golongan oportunis.

Meski begitu, mereka semua memiliki pemahaman yang mirip satu sama lain. Dewa 19 seperti mewakili perasaan penggemarnya. Lagu-lagu Dewa 19 seperti gombalan-gombalan lelaki kepada perempuan yang diincarnya, namun isinya macho, tak cengeng. Walau mendayu, namun nuansa musik yang dibangun Dewa 19 tetap kokoh, gagah, jantan beud dah. Bagi cewek-cewek, mungkin syair serta musik Dewa 19 seperti menggambarkan lelaki idaman yang sedang merayunya. Makanya lagu-lagu Dewa 19 rada aneh bila dibawakan oleh penyanyi wanita. Lha wong macho gitu.

Banyak orang mengenal Dhani saat ini sebagai seorang yang bicara berlebihan tentang politik. Omongannya banyak dianggap amburadul serta bikin senewen. Namun yang senang dengan gaya koboinya juga banyak. Yang ndak senang akan bilang Dhani norak. Yang setuju bakal mengatakan Dhani berkarakter. Mungkin Dhani sedang mencari sensasi “adrenalin” bagaimana rasanya dicintai sekaligus dibenci pada bidang lain, setelah ia tak mendapatkan itu lagi di musik. Apa lagi yang hendak diraih di musik? Dhani sudah merasakan semuanya.

Semua yang mengetahui kiprah bermusik Dhani, akan bersepakat pada satu suara. Dhani musisi jenius. Dari tangannya, lahir karya-karya berkelas yang tak lekang tertelan zaman. Lantas, mengapa Dewa 19 tak mengeluarkan album lagi? Mungkinkah karena kesibukan tiap personelnya hingga tak sempat meluangkan waktu untuk menggodok album baru? Hanya Dhani yang tahu jawabannya.

Saat latihan bersama Dewa 19 di Studio Legend yang kini banyak dihiasi koleksi garuda pancasila tempo hari, Dhani datang paling awal. Dia begitu bersemangat. Lagu demi lagu mengalun, melayangkan nuansa kental 90 an, meski dengan balutan sampling-sampling suara kekinian. Gitar Andra tak ada bedanya dengan yang di kaset. Seperti menyayat memori, menguak kenangan lama. Cabikan bass Yuke berdentum-dentum dengan magis, bulat halus seperti kue apem terbaik. Gebukan drum Agung gimbal yang ritmis ciamik mendasari tiap nada agar selalu padu. Mengiring dan melayani kemana Andra dan Dhani melaju. Vokal Ari Lasso tak pernah surut kualitasnya. Memberi jiwa di setiap lagu Dewa 19, mencabik-cabik kenangan masa lalu, menyembulkan lirik yang telah lama melekat di telinga pendengar, untuk ikut mengiringi bernyanyi bersama.

Seusai latihan, Dhani masih tinggal di studio. Dikelilingi 4 kibord, ia mulai menjelajah berbagai kemungkinan suara yang ingin ia gunakan. Nampak ia telah lama tak melakukan ritual ini, Dhani sempat kebingungan menemukan tombol-tombol mana yang harus dipencet untuk menghasilkan suara kibord yang ia kehendaki. Setelah mengatasi keadaan, tampaklah kejeniusan musisi ini. Pilihan nada-nada serta model suaranya memang juara. Namun semua harus diuji kembali bersama band, tak bisa hanya suara kibord saja. Harus dipastikan harmonis serta memberikan nuansa yang ingin ia capai.

Saran saya, bila tidak keberatan, janganlah kalian sering tampil dalam acara musik. Biar penampilan Dewa 19 menjadi langka dan selalu ditunggu-tunggu.

Terima kasih Dewa 19, Ari Lasso dan Once Mekel!

Share this :

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Dilindungi UU Hak Cipta