Tumbuh Bersama Sampai Kita Tua


“Untuk teman-temanku yang diceritakan di dalamnya.”


Seburuk buruknya kamu, masih lebih buruk saya.
Sebaik baiknya saya, masih lebih baik kamu.

Yang membuat bangsa ini Mundur adalah..Kita berebut untuk Tampil seperti PAHLAWAN..

Kesepian itu siksaan terbesar bagi para pembenci, dan penderitaan itu bertambah bila dia tidak ditanggapi.

Belajarlah sastra, kata-katamu akan indah, tak kasar dan hatimu peka, karena kau mengerti bahasa manusia.

Ruangan itu senyap, tidak sepi, hanya senyap saja.

Aku suka bepergian, tapi benci ketika sampai.

Kamu bisa berpura-pura bodoh saat bicara dengan orang yang lebih bodoh darimu. Tapi kamu tidak bisa berpura-pura pintar saat berbicara dengan orang yang lebih pintar darimu.

Ketika rumah tidak lagi nyaman untuk melegakan dada yang sesak, dan tak lagi menjadi tempat kembali untuk diri yang mulai merasa asing, lalu kemana dia harus pulang?

Berdoalah untuk tersesat.
Selain kau akan belajar menemukan jalan untuk bertahan,
Kau juga akan belajar menemukan siapa dirimu yang sebenarnya ketika tak punya apa-apa.

Di semestaku yang sekarang, aku telah banyak melupakan. Berjalan angkuh bak raja yang tak mengenal siapa yang menciptakan.

Siksalah hidupmu sekeras-kerasnya. Melaratlah. Merangkaklah. Jilatlah kaki orang lain. Itu akan membuatmu kuat dihadapan bangsat kelas kakap sekalipun.

Disela-sela baitku yang belum rampung, selalu kehilangan akal dan kata untuk menyempurnakannya. puisiku cacat. dirimu utuh. astaga,..aku masih juga belum sadar,.. diriku tidak cocok untuk hal yang beginian.

Senang bisa mengenal kalian !

Kami mencintaimu, TUHAN. Terima kasih untuk makanan ini, dan untuk makanan-makanan yang lain.

Kita untuk selamanya, Tumbuh Bersama Sampai Kita Tua!

Kamu tau apa yang paling membuatku sedih? Iya. Aku kehilangan banyak manusia. Meski aku tau semuanya perlahan akan berubah, tapi aku tidak pernah siap.

Tumbuh Bersama Sampai Kita Tua! – Mahasiswa S1 Ilmu Hukum 2016-2020 Fakultas Hukum Untag Semarang

Beberapa cerita memang pada akhirnya harus usai. Bukan karena direncanakan, tapi memang karena harus ada cerita baru yang dimulai.

Doa saya hari ini masih sama seperti doa Plato, “Terima kasih Tuhan karena telah melahirkan saya sebagai manusia bebas”

Bumijawa, April 2019

  • Danny Gaida Tera ELgar
  • Bayu Prasetyo Aji
  • Cadhika Surya Pradana
  • Dewi Aisya
  • Dukhaeriyah
  • Dwi Poso Purnomo
  • Hendy Setiawan
  • Khishtin Thonia Zamrud
  • Mochamad Faizal Harnawan
  • Risky Wahyu Pertiwi
  • Tatag Indra Sadono
  • Vivi Melati
Melebur menjadi satu

Share this :

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Dilindungi UU Hak Cipta