Setelah perjalanan panjang yang berulangkali membuatku kelelahan

Sebenarnya aku masih belum yakin apakah aku mengharapkan agar tulisan ini berjodoh dengan panca inderamu atau justru sebaliknya. Tapi nyatanya aku tetap menuliskan ini dan membiarkan alam yang menentukan.

Aku tahu bahwa bahkan sebelum kita sempat saling mengenal, aku telah menjadi sosok antagonis di hidupmu.

Tapi apabila pada tulisan ini kau mengharap untuk menemukan kata maaf, maafkan karena kau harus kecewa. Bukan itu maksudku menuliskan ini.

Di sisi lain, aku juga tak ingin berpura-pura tidak angkat topi untukmu. Aku salut, iri, padamu, atas kekuatanmu bangkit dari peristiwa ini. Jika itu aku, aku bisa membayangkan diriku mati dilahap segala kecewa, segala amarah, atas pengkhianatan dan kehilangan. Tapi kau kuat, sangat kuat.

sedikit tentangnya, bagiku dia adalah seluruh. Jadi inilah sebabnya mengapa aku tidak meminta maaf padamu.

Kamu terlalu sibuk menyelamatkan, ketika sebenarnya kamu yang paling butuh diselamatkan. Kamu tahu? Entah.

Tulisan adalah salah satu cara untuk menelusuri jejak masa lalu. Mengingatkan diri sendiri ketika lupa dan tidak ada yang mengingatkan.

Aku belajar untuk tidak tahu. Dengan itu, tidak ada ketergesa-gesaan untukku memahamimu. Dengan itu, tidak ada tanggung jawab untuk andil pada apa pun yang ada di hidupmu.

Lagipula, memang aku tidak selalu perlu tahu. Aku, masih butuh untuk tidak banyak tahu. Sampai pada waktunya nanti, aku akan tahu apa yang memang perlu aku tahu.

 

Beberapa tahun dari sekarang, kita akan bertemu lagi tanpa sengaja.

Ambarawa, April 2018 | Danny!

Share this :

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Dilindungi UU Hak Cipta