Digna


Digna, aku bukan yang melepasmu. Kaulah yang sejatinya kehilangan aku. Bila nanti kau bosan mencari pengganti yang tak kunjung kuat menghadapi perangai kerasmu, sifat tidak kunjung puasmu, kenakalanmu, ego tinggimu, serta keras kepala yang kau miliki itu; maaf, aku sudah lama pergi.


Kau tahu? Kau hadir dihatiku dan menghapus semua nama. Di dinding hatiku, aku memahat namamu, supaya menghapusmu berarti menyakiti diri sendiri.

Sesekali aku melirik padamu, hanya ingin melihat wajahmu yang tengah serius, digna.

Aku menemukan wajah di antara kerumunan tanya. Pada wajah itu kutemukan sepasang mata jurang yang kepadanya aku rela jatuh. Memang banyak yang lebih darimu tapi tiada yang secukup kamu dihatiku.

Kaulah sejatinya pujangga; ibu dari anak-anak kata,
rawat mereka di rumah-rumah puisi,
berjaga hingga kelak senja menutup hidup.

Kau mati muda dalam kenanganku,
layaknya syuhada;
kau akan kukenang dan kusebut dalam tiap do’a.

Mungkin Tuhan tersenyum,
pun terbahak.
Setiapkali kusebut namamu dalam doa;
memintakan takdir yang tak pernah Ia tuliskan.

Tiada pelukan yang lebih rumah daripada pelukanmu.
Aku seperti terombang-ambing di atas perahu. Tanpamu, lantai kamarku itu lautan.

Kamu adalah wanita yang selalu aku impikan.
Itulah mengapa kau kulepaskan.
Dengan adanya kamu aku takkan pernah bangun.
Bersama kamu, hidupku takkan pernah senyata ini.

DANNY GAIDA TERA ELGAR – DIGNA MEBIYATI
(23 Maret 2011 s/d 23 Maret 2099)

Share this :

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Dilindungi UU Hak Cipta