Sukma

Adalah aku, yang selama ini selalu membuat dirinya bangga
Aku menemukan wanita ini di Bali. Dia sangat cantik dalam diamnya. 
Dia diam. Dia baik.
Hari itu, Denpasar bukan hari yang baik untuk pergi, Langit abu-abu dan rendah tetapi belum hujan.


Wanita yang manis, bahkan diamnya bisa mematahkan semua tulang.

Aku senang bersamamu dan itu yang penting.
Entah mengapa, meskipun aku marah sekali, sampai rasanya ingin meledak.
Tapi tiap kali kau mengajakku baikan dengan kata-katamu, aku selalu kalah.
Curang sekali.
Apakah kau ingat? Kau mencari buku karya dariku di toko buku ternama. Padahal, bukuku belum terbit?
Apakah kau ingat? Kau adalah pembaca pertama dari Tulisan-tulisan yang kubuat?
Apakah kau ingat? Kita pernah makan di warung kecil pinggir jalan sekitar setengah tiga pagi? Apakah kau ingat? Kau memperlihatkan potret masa kecilmu, yang kau bilang tidak semua orang kau beritahu?
Apakah kau ingat? Kau memarahiku ketika dalam satu malam aku berulang kali mengatakan bahwa aku sangat menyayangimu?
Apakah kau ingat? Tentang semua hal yang tak mungkin kutuliskan semua?
Kau lebih rumit dari tugas yang sedang kukerjakan.
Tugasku memang rumit, tapi setidaknya bisa dipahami jika ingin.
Kau? tak ada pelajaran yang membahas tentang kau.
Aku senang kau apa adanya, aku senang kau percayaiku penuh, kau menceritakan sedih dan bahagiamu, hari-harimu, mimpi-mimpimu.
Memilikimu, menikmatimu
menyakitimu aku sempat.

Menemukanmu sangat mudah,
kau ada dalam puisi Picisan yang kubuat
dan ku baca sendiri berulang-ulang kali.
aku tak mau berdebat panjang dengan rindu.
aku tak mau membuka jendela setiap pagi.
Aku hanya takut sedikit salahku tak akan pernah bisa ia lupakan.
Apapun yang ia lakukan, selalu kubiarkan.
Dia seperti pemenang di perjalanan hati ini
aku menyayangimu sudah di luar kepalaku.
Meluk kamu itu mahal sukma! Aku harus bayar dengan banyak waktu. Yang aku sendiri tidak bisa belinya.
Kamu rindu tidak? Kalau iya, kita sama.

Aku ingin makan malam denganmu,
beralas kain tenun, berbekal roti isi daging dan sayur.
tak lupa sebotol anggur untuk kejujuran dan pelukan.
membicarakan tentang bagaimana kehidupan di bulan, dan omong kosong tentang kesetiaan. Hahahaha

Sukma
Menemukanmu sangat mudah, kau ada dalam puisi Picisan yang kubuat dan ku baca sendiri berulang-ulang kali.

Aku cinta bohongmu, sukma.
Karena kau tak ingin melihatku sibuk dalam duka.
Aku akan selalu mengingat pesan-pesanmu. kau tak suka aku yang sering menahan kantuk, kau tak suka aku yang tercampur alcohol, kau tak suka aku ditengah angin malam, kau tak suka aku yang berlebihan yang tak tau tempat. Karena kau, aku melihat ciptaan Tuhan yang amat mencintaiku

Entah apa rasanya ini, aku tak pernah tahu, Disisi keras dan malumu, kau berkata “Tak pernah aku inginkan, seseorang yang aku sayangi dijatuhkan tepat dihadapanku.”
Miliknya adalah aku, yang selama ini selalu membuat dirinya bangga, meskipun sering kali ia banyak menangis, tetapi hujan juga pasti akan reda, karena dia tahu apa yang ia miliki sesungguhnya adalah jantung yang ada di dalam tubuhku, yang kelak dia temukan pada anak-anaknya.

Aku cinta bencimu
Karena kau ingin aku tak kemana-kemana
Karena kau ingin aku dekat dengan Tuhanmu

Digna
Aku bukan yang melepasmu. Kaulah yang sejatinya kehilangan aku. Bila nanti kau bosan mencari pengganti yang tak kunjung kuat menghadapi perangai kerasmu, sifat tidak kunjung puasmu, kenakalanmu, ego tinggimu, serta keras kepala yang kau miliki itu; maaf, aku sudah lama pergi.

Pada matanya aku selalu merasakan sensasi yang akrab. Segalanya, termasuk helaian rambut di keningnya, tampak cocok untuk disesuaikan dengan dirinya. Hingga kiamat dan bahkan mungkin setelah itu.
Maaf untuk semua kesalahanku. Apapun itu..
Dimanapun kau berada, jagalah dirimu baik-baik.
Pergilah bersama doa-doa yang suci. Semoga kau selalu bahagia.
Aku akan menemuimu sukma.

 

Danny!,
Seseorang yang selalu membuatmu marah.

Kembali ke Chapter 1


Share this :

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Dilindungi UU Hak Cipta