Pelacur Nomor 9

Memang aku seorang pelacur, tuan kolonel. Tapi aku masih berhak mempunyai kehormatan. Karena, aku tidak pernah menjual warisan nenek moyang pada orang asing.

Lantas apa yang salah dengan pelacur? Adakah orang yang menulis di buku catatannya, cita-cita: pelacur.
Mana yang lebih pantas dipertanyakan, takdir atau pelacur?

Apa kau sudah lupa? Lepas dari pelukan ini, seperti malam beberapa bulan yang lalu. Setelah kau disuguhi senyuman khas miliknya, selanjutnya kau akan langsung digiringnya ikut berjejal bersama dengan mereka di pinggir jalan sana. Kemudian dia akan menampakan basa-basinya padamu, yang bahkan kupikir itu malah lebih mirip seperti menggoda, “Malam ini, siapa lagi yang akan kau jerat dalam permainanmu ?”

Hidup dalam dunia yang kejam.
Berkelebat diantara malam.
Berenang menyebrangi dimensi yang kelam.
Bertahan hidup, meski kau tahu itu haram.
Sungguh sabar menanti sang tuan.
Menantinya di pinggir jalan.
Berdiri semalaman.
Kadang dihina oleh cercaan.
Kadang dicampakkan dari kehidupan.
Sungguh malam nasibmu, wahai perempuan.

Pelacur Nomor 9
Engkau hidup di tanah yang salah janganlah menambah masalah, pulanglah

Malam engkau terlihat mempesona
Siang engkau terbujur kaku merana
Meratapi nasib, salah siapa
Engkau bagai boneka si dia

Dicicipi demi selembar merah
dibelai penuh pasrah
hingga fajar merekah
engkau tetap serakah
akhirnya dijuluki sampah
oleh mereka yang tak mengaku salah

Gadis,
usiamu tampak belia
kembalilah sebelum menangis
mimpimu masih seangkasa

Engkau hidup di tanah yang salah
janganlah menambah masalah,
pulanglah…

Setiap pelacur pernah perawan.


Para pelacur bekerja tidak sesuai dengan apa yang ada dihati kecilnya, mereka bekerja untuk mencari uang dengan cara menjual cinta tanpa perasaan. Tidak selaras antara tujuan pekerjaan mereka dengan idealisme yang ada dihati mereka.


Share this :

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Dilindungi UU Hak Cipta